Superman, Main Musik, dan Social Media

Oleh: Radenarisda Penanggung Jawab Discover Borneo *)

“People hate what they don’t understand,  and what they know they can’t achieve. People fear what they don’t understand and hate what they can’t conquer.”

– Andrew Smith.

Saya senang bermain musik. Semacam salah satu hobi, meski tidak begitu mahir. Karena cuma hobi, saya memainkan musik hanya saat senggang. Ketika mood sedang tidak ingin, saya melakukan hobi yang lain – berkebun, misalnya.

Ketika sedang tidak ingin bermain musik,  lalu ada yang meminta saya menghibur dengan bermain musik, hasilnya antara dua;  musiknya jadi tidak enak didengar (karena saya sedang tidak ingin), atau saya akan makin mahir karena mampu memanage ego,  di mana saya bisa belajar memerangi ketidakinginan saya dan toleran demi bisa memenuhi kebutuhan orang lain; menghibur mereka.

Hobi bisa bermanfaat ganda, bukan hanya sekadar menyenangkan diri kita, tapi bisa untuk menghibur orang lain juga..

***

Quote pembuka tulisan ini kembali dipopulerkan dalam salah satu dialog film Batman V Superman yang rilis baru-baru ini. Martha Kent, ibu angkat Clark Kent (Superman) mencoba menenangkan Superman ketika Si Manusia Baja itu galau di saat ia menolong banyak orang, namun banyak pula yang salah paham dan memusuhinya. “Banyak orang membenci hal-hal yang tidak mereka ketahui,” kata si Ibu.

Di zaman yang serba terbuka, alangkah susahnya hidup dalam ketidakmengertian. Tidak mengerti dianggap tidak sejalan. Tidak sejalan dianggap tidak belajar. Tidak belajar disebut tidak berubah. Tidak berubah dituding ketinggalan zaman. Ketinggalan akan dikucilkan atau sekurangnya tersingkir dari pergaulan. Ujung-ujungnya, seseorang dalam kondisi “tersingkir” akan membenci keadaan itu.

Superman, dalam cerita dan film, selalu berusaha berbuat baik dan menolong orang. Toh masih banyak orang yang tidak setuju dengannya. Meski bisa disimpulkan, ketidaksetujuan (atau kebencian) itu beralamat pada ketidakmengertiannya akan maksud baik Superman.

Ada hal yang mendasar dalam ketidakmengertian itu, karena yang mereka benci adalah apa-apa yang tidak mereka ketahui…

***

Saya juga hobi menulis. Dan hobi menggunakan social media. Sejujurnya, saat menulis artikel ini — yang kurang lebih maksudnya “Bagaimana Menggunakan Social Media dengan Bijak” – posisi saya sedang tidak ingin menulisnya.

Ada lebih dari 200.000 artikel di google jika kita mengetik dengan kata kunci seperti itu. Anda bisa dengan mudah mencarinya.

Namun saya tetap menulisnya. Saya ingin menggandakan manfaat hobi itu, hobi menulis dan bersocial media,  bukan hanya untuk kesenangan saya, tapi juga untuk menghibur yang lainnya.

Lalu apa hubungannya musik, social media, dan kebencian?

***

Kita sudah tahu betapa tidak enaknya membenci. Bukan hanya menguras energi, namun juga berbahaya jika bibit kebencian dibiarkan membesar. Energi negatif itu menular dan mempengaruhi yang lain.

Di ranah nyata dalam pengertian sosialisasi/ demonstrasi menggunakan media apapun termasuk dunia maya dan social media, Surat Edaran (SE) Kapolri Jenderal Badrodin Haiti beromor SE/06/X/2015 yang dirilis sejak 8 Oktober 2015 lalu mengatur hal itu.

Hal-hal berkaitan dengan penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, provokasi, menghasut, menyebarkan berita bohong dan semua tindakan di atas memiliki tujuan atau bisa berdampak pada tindak diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa, dan atau konflik sosial – termaktub jelas.

Ujaran kebencian (hate speech) yang bertujuan menghasut dan menyulut kebencian terhadap individu dan atau kelompok masyarakat dalam berbagai komunitas dari aspek suku, agama, aliran keagamaan, keyakinan atau kepercayaan, ras, etnis, gender, dan lain-lain, tertera jelas.

SE Kapolri berkaitan dengan Hate Speech itu — dalam wujud lain — adalah “Superman” yang menjadi fasilitator untuk kebaikan masyarakat.

Apakah ada yang tidak setuju? Tentu ada – jika tidak disebut banyak.  Terlepas dari bagaimana pelaksanaannya yang muncul pro dan kontra, kehadiran “Superman” di tengah kita seharusnya dimaknai dengan baik untuk menolong atau sekurangnya memfasilitasi kita untuk kebaikan bersama.

***

Aturan semacam SE Hate Speech oleh Kapolri itu, bagi saya,  sama urgent-nya dengan aturan yang dikeluarkan pemerintah terikait kebijakan bahan pokok panganan.

Kita tidak bisa lagi menafikan media sosial di zaman digital. Ini juga bukan kebutuhan sampingan lagi, melainkan sudah kebutuhan utama dan pokok.

Contoh sangat kecil, saya cenderung lebih panik saat ketinggalan HP ketimbang ketinggalan dompet. HP, bagi saya,  bukan sekadar alat komunikasi. Tapi mewakili hampir semua kebutuhan pekerjaan dan bahkan pertemanan.

Bagi saya (dan banyak orang seperti saya) media sosial sudah bertransformasi dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan pokok.

Ini bukan soal narsis-narsisan di Facebook, Twitter, Instagram, dan apapun nama social medianya. Ini soal kebutuhan di mana kita bisa berkativitas dan berinteraksi — kendati banyak yang menyebutnya “sekadar ingin eksis di dunia maya” .

Keberadaan SE Hate Speech itu, antara lain, ikut mengatur agar jika ingin eksis, tidak perlu dengan menjatuhkan orang lain. Jika ingin narsis, silakan saja, tapi jangan memprovokasi, dan seterusnya.

***

Bermusik maupun bersocial media, baik ia dilakukan untuk sekadar hobi maupun pekerjaan, kurang lebih memiliki ilustrasi yang sama.

Kalau ingin menarik banyak orang dengan musik, teruslah berlatih lagu baru yang menarik. Di social media, teruslah update informasi yang bermanfaat.

Musik tanpa pengdengar, hanya bisa dinikmati sendiri. Social media tanpa followers,  apa gunanya?

Bermain musik, adalah seni. Bisa juga kebutuhan. Social media juga sama. Kita tidak bijak jika hanya mengatakan musik kita bagus, tapi tidak mendengarkan masukan orang lain. Social media juga menerapkan prinsip dasar itu, yang secara tidak langsung para pakar menyarankan untuk: listening first.

Terakhir, kita boleh kapan saja bermain musik. Asal tidak menyebabkan orang lain terganggu. Bayangkan kita main gitar genjrang genjreng pukul 01.00 di beranda rumah ketika semua orang terlelap. Bukan hanya mengganggu, itu bisa menyulut amarah, dan memancing kebencian.

Bermusik ada tempat dan waktunya, ada peluang untuk berbisnis darinya,ada potensi konfliknya, dan juga batasan-batasannya.  Social media, kurang lebih, juga demikian.

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password